Manajemen Perusahaan dalam mengelola perusahaan sering menghadapi berbagai kendala, diantaranya :
· belum memiliki tools untuk membantu sistem pengelolaan kompetensi SDM,
· kompetensi rata-rata karyawan masih kurang memadai untuk merespon tantangan bisnis masa depan,
· belum adanya kajian khusus berkaitan dengan kepemimpinan.
Sementara harapan dari perusahaan, antara lain meningkatnya efisiensi dan produktifitas usaha sehingga mampu tumbuh dan berkembang menjadi perusahaan yang memiliki nilai yang tinggi, modern dan kompeten, setara perusahaan kelas dunia serta mampu meningkatkan kompetensi SDM.
Berangkat dari visi dan misi perusahaan dalam perspektif masa datang, maka keberhasilan yang hendak diwujudkan tidak akan terlepas dari Gaya Kepemimpinan yang diterapkan pimpinan, yakni mampu mengenal kebutuhan individu, membantu mengembangkan prestasi pegawai , membuat penyelarasan dan pengawalan atas prosedur dan inovasi.
Sukses perusahaan sering dikaitkan dengan Gaya Kepemimpinan dari seorang pimpinan. Gaya Kepemimpinan ini merujuk kepada bagaimana seseorang pimpinan memerankan dimensi Perilaku Hubungan dan dimensi Perilaku Tugas yang dilengkapi dimensi Tingkat Kesiapan pegawai. Kelemahan pimpinan dapat dilihat dari persepsi pegawai yang bersifat negatif terhadap pimpinan mereka. Kepemimpinan yang lemah dan tidak berkesan ini sering dihubungkan dengan minimnya kreativitas di kalangan pegawai. Sementara minimnya kreativitas sangat mempengaruhi kinerja pegawai (Anderson dan Iwanicki, 1984).
Keberhasilan perusahaan juga banyak bergantung kepada bagaimana pimpinan dapat menerapkan Gaya Kepemimpinan yang sesuai , yang mampu menyelesaikan permasalahan yang timbul. Mampu memecahkan persoalan, bukan berarti mempunyai kelebihan disegala bidang, akan tetapi pimpinan tersebut unggul dalam hal tertentu. Misalnya, kemampuannya dalam pengambilan dan melaksanakan keputusan, mampu memanfaatkan kelebihan bawahannya, bertanggung jawab serta bersedia menanggung resiko. Keunggulan yang dimiliki pimpinan inilah yang akan mempengaruhi pegawainya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan perusahaan.
Persoalan kepemimpinan merupakan permasalahan yang besar dalam menentukan keberhasilan perusahaan. Namun demikian, pimpinan sering menghadapi kendala dalam menjalankan tugasnya, antara lain sulitnya pegawai dalam menerima perubahan, tidak dapat menerima nasihat dan kritikan, kurang berusaha, kurang memiliki semangat kekeluargaan, bersikap negatif dan sebagainya.
Kepentingan pimpinan dalam pengelolaan perusahaan dapat dilihat dalam dua aspek. Pertama, memandankan perusahaan sebagai organisasi yang dianggap profesional, peranan pimpinan lebih merupakan sebagai seorang pimpinan pegawai. Mereka terlibat dalam pembuatan keputusan, menyusun program, memberi dorongan, penyelaras dan menilai pegawai yang dipimpinnya. Kedua, perusahaan dilihat sebagai sebuah organisasi yang sentiasa berubah. Sudah semestinya setiap perubahan memerlukan suatu penyesuaian guna mengatasi segala persoalan yang timbul. Kemampuan untuk menyelesaikan persoalan yang timbul merupakan tugas utama pimpinan sebagai pengelola perusahaan.
Model kepemimpinan yang banyak digunakan saat ini adalah berdasarkan model yang disebut sebagai teori kepemimpinan situasional yang dikembangkan Paul Hersey dan Ken Blanchard. Model ini banyak digunakan oleh perusahaan-perusahaan di Amerika. Penulis cenderung melakukan penelitian dengan pendekatan teori ini, sebagaimana diungkapkan oleh Stephen P. Robbins, bahwa teori ini menarik untuk didalami oleh karena sedikitnya ada tiga alasan, yaitu : penggunaannya yang luas, daya tariknya secara intuitif, dan didukung kalangan spesialis pengembangan manajemen, disamping nilai praktis yang mudah diterapkan di perusahaan.
Perumusan Masalah
Dari latar belakang permasalahan di atas, dapat dirumuskan masalah dalam penelitian sebagai berikut :
· Bagaimanakah persepsi pegawai tentang Gaya Kepemimpinan di Perusahaanya ?
· Bagaimanakah efektivitas Gaya Kepemimpinan yang diterapkan dikaitkan Tingkat Kesiapan pegawai ?
· Upaya apa saja yang dapat dilakukan untuk dapat meningkatkan/ menerapkan Gaya Kepemimpinan yang efektif ?
Permasalahan ini mendorong penulis untuk mengidentifikasikan lebih jauh Gaya Kepemimpinan situasional yang diterapkan pimpinan dan kesesuaiannya dengan Tingkat Kesiapan pegawai perusahaan. Penulis juga berupaya melihat efektivitas Gaya Kepemimpinan yang diterapkan, sehingga didapatkan gambaran umum pola kepemimpinan yang ada di Perusahaan.
Tujuan Penelitian
Penelitian dilaksanakan untuk mengungkap Gaya Kepemimpinan yang diterapkan oleh pimpinan. Hal ini disebabkan karena kesesuaian gaya yang diterapkan pimpinan bila dihubungkan dengan Tingkat Kesiapan pegawai dalam menjalankan tugas, akan berpengaruh terhadap tingkat efektivitas kepemimpinan, yang pada akhirnya akan berpengaruh pula pada keberhasilan perusahaan dalam mencapai tujuan. Oleh karena itu, tujuan penulis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
· Mengetahui Gaya Kepemimpinan yang diterapkan di masing-masing unit kerja Perusahaan.
· Mengetahui efektivitas Gaya Kepemimpinan kaitannya dengan Tingkat Kesiapan pegawai.
· Mengetahui upaya-upaya yang harus dilakukan untuk meningkatkan efektivitas Gaya Kepemimpinan.
Kegunaan Penelitian
Hasil Penelitian ini diharapkan dapat berguna :
· Untuk mengenal dengan pasti Gaya Kepemimpinan seorang pimpinan.
· Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan masukan yang berarti bagi pimpinan puncak maupun menegah dalam menjalankan kepemimpinan di Perusahaan.
· Untuk mengetahui efektivitas Gaya Kepemimpinan yang diterapkan di masing-masing unit kerja.
· Sebagai referensi bagi peneliti lain
Kerangka Pemikiran
1. Gaya Kepemimpinan ( Styles : S )
Kerangka pemikiran dalam penelitian ini didasarkan kepada pendekatan Gaya Kepemimpinan yang dikembangkan oleh Paul Hersey dan Ken Blanchard dikenal dengan teori kepemimpinan situasional. Kajian dilakukan pada dimensi Perilaku Hubungan dan Perilaku Tugas, yang digambarkan sebagai tinggi – rendah untuk kemudian digabungkan menjadi empat perilaku pimpinan yang spesifik, yakni telling, selling, participating, delegating.
2. Tingkat Kesiapan Pegawai ( Readiness : R )
Tingkat Kesiapan ( R ), diartikan sebagai kemampuan dan kemauan dari pegawai (bawahan) dalam melaksanakan dan menyelesaikan tugasnya. Hersey dan Blanchard (1982) yakin bahwa hubungan di antara pimpinan dan pegawai bergerak melalui empat fase, yaitu Tingkat Kesiapan Rendah (R1), Tingkat Kesiapan Sedang-Ttinggi (R2,R3) dan Tingkat Kesiapan Tinggi (R4).
Tiga dimensi dari Gaya Kepemimpinan, yakni Perilaku Hubungan, Perilaku Tugas dan Tingkat Kesiapan pegawai adalah merupakan variable-variabel untuk mengetahui kesesuaian Gaya Kepemimpinan serta tingkat efektivitas gaya yang diterapkan dimasing-masing unit kerja. Dalam upaya meningkatkan efektivitas Gaya Kepemimpinan, perlu diperhatikan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi, sehingga Gaya Kepemimpinan yang diterapkan menjadi paling efektif, seperti ditunjukkan dalam Gambar 1.1 Pola Pikir.
Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survey, yang dilaksanakan dengan sasaran peneliti adalah pegawai Perusahaan. Penelitian ini menggunakan tiga buah instrumen yang dikembangkan dari hasil kajian teoretis dan instrumen tersebut telah diuji coba. Uji coba dimaksudkan untuk menghitung validitas dan reliabilitas butir-butir yang akan digunakan dalam penelitian.
Perhitungan validitas instrumen melalui analisis item dengan taraf signifikansi a = 0,05. Butir akan dinyatakan valid jika koefisien korelasi Product Momen rhitung > rtabel, sedangkan untuk mengetahui koefisien reliabilitas instrument, pengujian dilakukan dengan internal konsistensi dengan Teknik Belah Dua ( Split half ) dan dianalisis dengan rumus Spearman Brown. Item dari instrument dibagi menjadi 2 kelompok, yakni kelompok yang bernomor genap dan bernomor ganjil. Skor dari data tiap kelompok masing-masing diukur tersendiri.
Respon atau jawaban yang diberikan berasaskan kepada kejujuran dan kerelaan responden dan hasil penelitian ini tidak dapat digeneralisasikan untuk tempat/ lokasi lainnya.
Lingkup penelitian hanya menunjukkan kepada Gaya Kepemimpinan sebagaimana teori atau model kepemimpinan situasional dengan dimensi Perilaku Hubungan, dan dimensi Perilaku Tugas serta dilengkapi dengan Tingkat Kesiapan pegawai untuk mengetahui kesesuaian gaya yang diterapkan pimpinan.